Jumat, 30 November 2012

Wartawan Bodrex

Sebenarnya tidak ada hubungan antara hobi ngeberik dengan wartawan "BODREX", tetapi entah mengapa hari ini saya ingin menulis tentang "parasit" yang terdapat dalam tubuh dunia kewartawanan ini. Kenapa parasit ? Karena ulah sebagian oknum ini nyata-nyata telah merugikan masyarakat luas termasuk korps wartawan itu sendiri.

Dulu di tahun 1993 - 2000, saya pernah menggeluti profesi sebagai wartawan, bermula dari wartawan kantor berita yang bernama "KNI", lalu pindah ke Harian Suara Nusa, pindah lagi ke tabloid lokal di Denpasar bernama Bali Infomedia dan terkahir di tabloid Modus. Setelah 7 tahun malang melintang dan mencari nafkah sebagai kuli tinta akhirnya saya memutuskan untuk banting setir dan sampai saat ini saya menggeluti bidang IT, sebagai webmaster sekaligus merangkap grafhic designer.



Disni saya tidak akan bercerita mengenai media tempat dimana saya pernah bekerja, tetapi saya ingin mengulas sedikit tentang julukan yang diberikan kepada sejumlah wartawan yang tujuan utama peliputannya adalah untuk mencari uang dari narasumber, bukan memburu berita. Wartawan yang digolongkan dengan istilah bodrex ini biasanya hanya mau datang meliput bila menurutnya dalam acara tersebut panitia akan menyediakan uang imbalan. Urusan bobot berita menjadi prioritas nomor kesekian. Bahkan tidak jarang wartawan jenis ini akan memeras narasumbernya agar menyerahkan sejumlah uang, entah dengan cara mengancam atau dengan cara lainnya. Intinya mereka menginginkan uang dari narasumber tersebut.

Wartawan bodrex dalam istilah saya adalah wartawan yang bekerja di sebuah usaha penerbitan dan mengantongi surat tugas dari instansinya. Sesungguhnya mereka adalah wartawan dan melakukan tugas-tugas jurnalistik, tetapi oleh karena kondisi tertentu membuat mereka tergoda oleh budaya "amplop", sehingga idealisme kewartawananya menjadi luntur. Merekapun membuat laporan peliputan berupa berita layaknya wartawan idealis lainnya, namun karena bobot berita dinomorsekiankan, maka berita yang mereka tulispun akhurnya jarang turun cetak, sehingga otomatis selain wartawan bodrex, julukan wartawan MunTaBer a.k.a muncul tanpa berita pun lekat dengan diri mereka.

Menjadi wartawan bodrex tentulah tidak nyaman, apalagi ketika berkumpul dengan sesama rekan seprofesi. Sorot mata mereka terasa aneh manakala melihat si wartawan bodrex bergabung bersama-sama mereka. Itu mungkin menjadi sebab si wartawan bodrex lebih suka berpartner hanya dengan sesama wartawan bodrex dalam mengejar berita (baca: mangsa). Tetapi manakala terdengar ada instansi yang menyelenggarakan press conference yang sekiranya menjanjikan ang pao, mau tidak mau si wartawan bodrex harus hadir dalam acara itu, diundang atau tidak oleh pihak panitia.

Apapun dan bagaimanapun, wartawan bodrex keberadaannya sangat merugikan semua pihak. Menurut saya korps dunia jurnalistik harus dibersihkan dari embel-embel bodrex dikalangan awak medianya. Menurut saya yang hanya seorang blogger yang belog, hilangnya wartawan bodrex bisa dicapai jika kondisi dibawah ini tercapai:

1. Birokrasi dan instansi yang bersih, jujur, disiplin dan transparan.
Bilamana dalam suatu instansi tidak terdengar adanya isu korupsi, kolusi dan nepotisme serta isu-isu negatif lainnya, maka sang wartawan bodrex tidak akan mendapat angin untuk melakukan aktifitasnya karena ruang gerak untuk membodrex semakin sempit.

2. Hentikan budaya cari muka.
Seorang pejabat atau pimpinan instansi terkadang ada doyan cari muka atau suka dipublikasikan. Celakanya lagi kalu si pencari muka suka umbar amplop kepada awak media agar dirinya bisa muncul di koran. Kebiasaan inilah yang menyumbang secara signifikan akan tumbuh suburnya wartawan bodrex di tanah air.

3. Perhatikan kesejahteraan pegawai.
Pada jaman saya bekerja sebagai kuli tinta (termasuk juga terjadi pada saya), perusahaan tempat wartawan itu bekerja jarang yang memperhatikan kesejahteraan wartawannya. Padahal wartawan sering meneriakkan tentang rendahnya upah karyawan yang bekerja di suatu perusahaan. Ironisnya mereka sendiri mendapat perhatian yang kurang tanpa ada wadah untuk meneriakkan ketidak adilan ini.

Wartawan juga manusia yang butuh hidup layak dan punya keluarga, sementara kondisi dan potensi dirinya tidak memungkinkan untuk bekerja di sektor lain. Kondisi seperti inilah yang juga turut memupuk tumbuhnya budaya bodrexisme dikalangan wartawan. Kalau bukan kepada nara sumber, kepada siapa lagi mereka harus menggantungkan harapan untuk hidup layak ?



Belakangan, istilah wartawan bodrex pun telah mengalami pergeseran arti. Julukan ini kini melekat pada mereka yang hanya mengaku wartawan, tetapi kenyataannya mereka bukanlah wartawan, melainkan pemeras narasumber untuk kepentingan mencari uang, apa pun cara mereka. Wartawan bodrex kini identik dengan WTS (wartawan tanpa surat kabar) atau wartawan gadungan.

Nah untuk wartawan "WTS" sepertinya harus ditempuh penertiban secara hukum, karena ini merupakan tindakan yang mengarah kriminal, bukan lagi menurunnya idelisme seorang wartawan. Sebab mereka sejatinya bukan wartawan.

Demikian curhat saya, tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun selain hanya menyumbang saran untuk membersihkan citra dunia kewartawanan dari benalu-benalu yang terasa mengganggu.

Selasa, 20 November 2012

Karaoke-an Sambil Ngebrik, Why Not

Saat mengalami kejenuhan untuk menekan tombol PTT, saya sempat bertemu rekan lama, Gung Aji Jayak. Jik Jayak panggilan beliau, merupakan teman breakeran saya sejak tahun 1980-an. Dari beliau saya mendapat inspirasi baru untuk merefresh kegemaran ngebrik agar rasa jenuh menjauh.

"Bagaimana kalau ikut karaokean di pangkalan saya," saran beliau. Saya pun seketika tertarik dengan tawaran ini, meski masih terasa asing ditelinga saya. Bukan karaokenya yang asing bagi saya, tetapi berkaraoke ria sambil ngebrik itu seperti apa ? Inilah yang asing bagi saya, Lalu saya mencoba mendengarkan secara seksama seperti apa karaokea-an a la breakeran yang beliau maksudkan di frekuensi pankalan kawan saya ini.

Setelah mencermati beberapa lama, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, berkaraoke a.k.a bernyanyi dengan alat seadanya, nyanyi sekenanya dan sebagainya. Bukan pula menggunakan mic dubbing atau mic dubling (mana yang benar?*). Karena jika menggunakan mic dubbing, se dung-dung apa pun aksesoris yang digunakan, musik akan mengecil atau bahkan hilang tatkala lagu dilantunkan. Keluarnya bukan berkaraoke, tetapi bernyanyi solo.

Seperangkat alat tambahan yang diperlukan agar berkaraoke ria bisa terasa enak dan empuk didengar baik oleh diri sendiri maupun orang lain yang mendengarkan antarea lain berupa reverb/echo, equalizer, mic dynamic, pemutar VCD/DVD/CD atau laptop/komputer, HT buat monitor (rekomendasinya Icom IC-2N), VCD karaoke, USB MP3 Player, headset dan tentu teman setia yang monitor sekaligus bisa menjadi komentator tentang kekurangan dan kelebihan penampilan kita.

Akhirnya setelah mempertimbangkan segala sesuatu dan lain halnya, saya pun memutuskan untuk naik panggung dunia breakeran, meski menyadari isi saku pas-pasan. Untuk sebuah hobi, apa sih yang tidak bisa dikorbankan ? Saya hitung-hitung asset yang sudah ada; HT, rig 2 biji, netbook (laptop mini), MP3 player dan DVD/VCD player. Berarti saya perlu reverb/echo, equalizer, mic dynamic dan headset. Dipasaran tersedia banyak, mulai dari merk Behringer sampai merk tak terkenal. Tetapi dipastikan dana yang dibutuhkan minimal mendekati 1 juta rupiah.

Tetapi solusi lain masih ada, dengan merakit sendiri dengan menggunakan komponen dan modul-modul yang tersedia di pasaran. Akhirnya dengan modal setengah dari prediksi harga diatas yakni 500 ribu rupiah, saya dengan dibantu Ajik Jayak akhirnya berkibar di frekuensi 145.680 MHz, tentu bersama Ajik Jayak, Ajik Alin, Ajik Aye, Tu Menggung, Tu Landung, Bu Gung Aye, dan yang lain-lainnya. Mengalunlah syair lagu seperti berikurt;

Lady, I am your night and shining armor and I love you ....
You have came into my life and make me whole ....
Forever ..........(dst)

Let's sing along with us !