Selasa, 20 November 2012

Karaoke-an Sambil Ngebrik, Why Not

Saat mengalami kejenuhan untuk menekan tombol PTT, saya sempat bertemu rekan lama, Gung Aji Jayak. Jik Jayak panggilan beliau, merupakan teman breakeran saya sejak tahun 1980-an. Dari beliau saya mendapat inspirasi baru untuk merefresh kegemaran ngebrik agar rasa jenuh menjauh.

"Bagaimana kalau ikut karaokean di pangkalan saya," saran beliau. Saya pun seketika tertarik dengan tawaran ini, meski masih terasa asing ditelinga saya. Bukan karaokenya yang asing bagi saya, tetapi berkaraoke ria sambil ngebrik itu seperti apa ? Inilah yang asing bagi saya, Lalu saya mencoba mendengarkan secara seksama seperti apa karaokea-an a la breakeran yang beliau maksudkan di frekuensi pankalan kawan saya ini.

Setelah mencermati beberapa lama, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, berkaraoke a.k.a bernyanyi dengan alat seadanya, nyanyi sekenanya dan sebagainya. Bukan pula menggunakan mic dubbing atau mic dubling (mana yang benar?*). Karena jika menggunakan mic dubbing, se dung-dung apa pun aksesoris yang digunakan, musik akan mengecil atau bahkan hilang tatkala lagu dilantunkan. Keluarnya bukan berkaraoke, tetapi bernyanyi solo.

Seperangkat alat tambahan yang diperlukan agar berkaraoke ria bisa terasa enak dan empuk didengar baik oleh diri sendiri maupun orang lain yang mendengarkan antarea lain berupa reverb/echo, equalizer, mic dynamic, pemutar VCD/DVD/CD atau laptop/komputer, HT buat monitor (rekomendasinya Icom IC-2N), VCD karaoke, USB MP3 Player, headset dan tentu teman setia yang monitor sekaligus bisa menjadi komentator tentang kekurangan dan kelebihan penampilan kita.

Akhirnya setelah mempertimbangkan segala sesuatu dan lain halnya, saya pun memutuskan untuk naik panggung dunia breakeran, meski menyadari isi saku pas-pasan. Untuk sebuah hobi, apa sih yang tidak bisa dikorbankan ? Saya hitung-hitung asset yang sudah ada; HT, rig 2 biji, netbook (laptop mini), MP3 player dan DVD/VCD player. Berarti saya perlu reverb/echo, equalizer, mic dynamic dan headset. Dipasaran tersedia banyak, mulai dari merk Behringer sampai merk tak terkenal. Tetapi dipastikan dana yang dibutuhkan minimal mendekati 1 juta rupiah.

Tetapi solusi lain masih ada, dengan merakit sendiri dengan menggunakan komponen dan modul-modul yang tersedia di pasaran. Akhirnya dengan modal setengah dari prediksi harga diatas yakni 500 ribu rupiah, saya dengan dibantu Ajik Jayak akhirnya berkibar di frekuensi 145.680 MHz, tentu bersama Ajik Jayak, Ajik Alin, Ajik Aye, Tu Menggung, Tu Landung, Bu Gung Aye, dan yang lain-lainnya. Mengalunlah syair lagu seperti berikurt;

Lady, I am your night and shining armor and I love you ....
You have came into my life and make me whole ....
Forever ..........(dst)

Let's sing along with us !

6 komentar:

  1. GEMANA CARANYA BIAR BISA KARAOKEAN GEN SAYA COLOKAN KE KOMP MUSIKNYA HILANG TERTINDIHH??

    BalasHapus
  2. Pakai mixer pak Made, yg dari comp satu channel yang tanpa vokal lalu dimixer dengan vokal dari reverb atau echo, masukkan ke jalur mic. Sederhana kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau efek reverb langsung dari laptop/komputer bisa ga ya? trims...

      Hapus
  3. Om....gmn ya echo reverb saya kata rekan2 katanya terlalu treble gmn cara tambah bass nya om.....?

    BalasHapus
  4. Boleh tahu bang, gambar skemanya?

    BalasHapus
  5. Bisa ga pake mixer aja tanpa reverb gan?

    BalasHapus